Kisah Pekerja Kantoran Yang Jadi Pengrajin!

Published: 26 Apr 2018

Bermula dari perkerja kantoran yang ingin memulai suatu bisnis milik sendiri, Herman pada awalnya membuka usaha dagang furnitur kayu karena memang tertarik dan menyukai kayu. Setelah itu ia mencoba untuk membuka usaha sendiri yaitu manufaktur produk kayu. Usahanya ini dimulai dari tahun 2003 dan berfokus pada furnitur besar kayu atau mebel. Namun pada tahun 2015, ia memilih untuk menyudahi usahanya ini.

“Turunnya orderan, kurangnya pembukuan yang baik, kendala internal dan pembengkakan biaya produksi serta karyawan,” ujar Herman pada tim Mendekor.

Dengan berbekal ilmu usaha dagang yang ia miliki, Herman membuka lagi produksi kayu yang lebih terkontrol dan fokus pada produk kategori yang lebih kecil atau aksesoris kayu untuk kebutuhan restoran, hotel, retail dan kebutuhan keluarga.

“Jika ada orderan mebel kayu kami masih menerima tetapi lebih memilih desain dan kualitas yang bisa kami kerjakan seperti kebutuhan furnitur restoran, kafe atau hunian pribadi,” lanjutnya.

Herman bertekad mendirikan usaha produk kayu yang bertempat di Sleman, Yogyakarta. Pada awalnya Herman hanya memiliki 2-3 karyawan saja, namun saat ini ia telah memiliki 15 karyawan yang membantunya dalam usaha ini.

“Saya menyukai produk-produk dari kayu dan masih tertarik untuk membuat usaha dalam bidang ini. Lalu, saya menyadari bahwa sampai saat ini kebutuhan kayu dari dalam maupun luar negeri itu semakin tinggi dan selalu meningkat,” tutur pria 54 tahun ini.

Tidak selalu berjalan lancar, ada berbagai macam kesulitan yang dialami oleh para pelaku usaha termasuk Herman. Menurutnya, kesulitan yang dihapadapi di industri kerajinan dikarenakan pengerjaan proses produksi masih manual dan sangat bergantung pada keterampilan pekerja sehingga membutuhkan waktu yang agak panjang dalam proses produksi dikarenakan adanya proses evaluasi atau quality control yang berulang-ulang untuk memenuhi kebutuhan ekspektasi kostumer.

“Lama pengerjaan juga bergantung pada cuaca, cuaca yang tidak cerah akan menghambat proses finishing karena jika dipaksakan akan membuat finishing kayu tidak maksimal. Kesulitan untuk mengontrol pekerja produksi, memotivasi dan membangun semangat bekerja yang lumayan sulit, sehingga mempengaruhi hasil pekerjaan,” ujarnya.

Barulah pada tahun 2016, Herman bergabung dengan Mendekor yang menurutnya turut membantu membuat usaha tersebut menjadi semakin berkembang dalam hal penjualan dan pemasaran. Peningkatan pendapatan dan jumlah karyawan pun semakin bertambah sekitar 25 - 30% persen.

“Pastinya dengan bekerja sama dengan Mendekor meningkatkan sales volume dan orderan rutin dari Mendekor sangat berharga bagi kami. Orderan rutin yang stabil sangat membantu usaha ini untuk bertahan dan berkembang. Keahlian Mendekor dalam hal penjualan dan pemasaran sangat membantu untuk lebih fokus ke kualitas produksi sehingga bisa memuaskan kebutuhan customer dan client melalui Mendekor,” urai Herman.

Apakah Artikel Ini Berguna?
View Compared Product
No Products to compared