Keterbatasan Pendidikan Si Pengrajin Kayu

Published: 26 Jul 2018

Menjadi seorang pengusaha tidaklah mudah, dan tidak semua orang bisa menjalaninya. Apalagi saat ini, pendidikan merupakan hal yang sangat penting bagi banyak orang di Indonesia. Padahal, tidak semua orang di Indonesia yang memiliki kemampuan untuk mengenyam pendidikan tinggi. Salah satunya adalah Rahman, seorang lulusan SMP dari kota Jepara yang memiliki tekad kuat menjadi seorang pengusaha.

“Awalnya saya pikir cari pekerjaan sulit, apalagi pendidikan saya hanya SMP. Bisa kerja juga gaji kecil dan tidak cukup untuk kebutuhan sehari-hari, akhirnya saya memutuskan untuk usaha sendiri,” jelas Rahman kepada Tim Mendekor.

Pada tahun 2001, Rahman pindah dari kota ia lahir dan besar lalu memulai usahanya di Yogyakarta. Saat itu, ia memilih untuk menjual produk-produk kerajinan dari kayu. Idenya ini didapatkan setelah berhasil melihat kondisi pasar di lingkungan ia tinggal yang mulai tertarik dengan kerajinan kayu. Barulah Rahman memulainya dengan membuat perabotan kayu.



“Karna menurut saya usaha kerajinan sangat menguntungkan. Apalagi produk yang saya buat ini, banyak juga yang cari misalnya nampan, tempat tisu, tempat perhiasan dan lain-lain,” tuturnya.

Ternyata, ia mendapatkan respon yang baik dari warga di lingkungannya atas produk-produk yang ia buat. Bahkan, produknya ini disukai oleh wisatawan yang berkunjung ke daerah tempat ia tinggal. Mendapat respon positif seperti ini, membuat Rahman terus mengembangkan usaha kerajinan kayu yang juga menjadi salah satu bakatnya sejak kecil.



“Saya jadi percaya diri menjalankan usaha ini, terlebih usaha yang saya jalani ini merupakan bakat saya dari dulu. Karena saya berasal dari Jepara, jadi dari kecil sudah belajar olah kayu dan ukir,” ungkap pria berumur 56 tahun itu.

Modal usaha yang sangat besar dan keterbatasan tentang pemasaran, menjadi permasalahan utama yang dihadapi oleh Rahman saat memulai usahanya. Namun dengan segala keterbatasan yang ia miliki, Rahman dapat melewatinya dengan kerja keras dan semangat yang membara sampai saat ini.



“Kesulitan saya pasti tentang sumber modal karena untuk membuka usaha mebel/kerajinan ini butuh modal yang sagat besar. Alat-alat mahal, belum lagi untuk beli kayu dan barang lainnya seperti amplas, tinner dan kebutuhan lainnya,” jelas Rahman. 

Setelah bekerja sama dengan Mendekor, usaha Rahman mengalami peningkatan dalam produksi dan pemasaran. Selain itu, ia mendapatkan banyak pengalaman dari kerja sama ini dan juga peningkatan dalam segi penghasilan.

“Peningkatan usaha saya ini bisa 25% dan jumlah karyawan nambah 3 orang. Jadi, saat ini karyawan saya ada 5 pengrajin,” tungkasnya.

 

 

Apakah Artikel Ini Berguna?
View Compared Product
No Products to compared