Dari Uang Saku, Menjadi Pengusaha Mebel

Published: 26 Jan 2019

Pertumbuhan industri mebel di Indonesia khususnya di Jepara, Jawa Tengah berlandaskan dari perkembangan seni dan tradisi yang merupakan kekayaan budaya Indonesia. Kota yang terkenal dengan kerajinan mebelnya, tak hanya tersohor di Tanah Air, produk dari Jepara juga sempat laris manis diekspor ke Asia, Eropa bahkan sampai Amerika. Namun, seberlajannya waktu industri mebel di Jepara perlahan-lahan mengalami keredupan, dikarenakan persaingan pasar didalam maupun diluar negeri.

Menurut sejarah, asal mula keahlian penduduk Jepara dalam industri mebel dimulai pada masa pemerintahan Ratu Kalinyamat. Pada waktu, itu Ratu Kalinyamat mempunyai seorang patih yang sangat ahli mengukir bernama Badar Dhuwung. Pada mulanya ia mengukir pada batu untuk hiasan masjid Mantingan. Pada saat sang patih membuat ukiran tersebut banyak orang yang tertarik untuk belajar mengukir.

Jamalludin adalah salah satu dari sekian banyaknya pengrajin mebel asal Jepara. Pria berumur 40 tahun ini sempat menempuh pendidikan dan tamat di bangku SLTA. Sudah semenjak bersekolah, Jamal hidup mandiri dan mengumpulkan pundi-pundi uang saku dengan bekerja sebagai pengirim furnitur. Kemudian ia bekerja di tempat kakaknya, Jamal bekerja sebagai penservis dan pengadaan bahan baku mebel. Dengan ketekunan dan kerja kerasnya, akhirnya Jamal memulai usahanya sendiri. Dan perlahan tapi pasti usaha tersebut mulai berkembang, sampai mendapatkan pembeli dari luar negeri.

Usaha yang dijalani Jamal ini sudah terbilang cukup lama, lebih dari 15 tahun. Meski demikian bukan berarti ia tidak mengalami kendala,

“Bahan baku yang mengalami kenaikan terlalu signifikan.”

Diakui Jamal sangat meresahkan para pengusaha mebel dan kerajinan. Keterbatasan pendiidkan Jamal tak menjadi penghalang baginya untuk belajar hal-hal baru dan melakukan inovasi. Menurutnya, pemahaman yang baik dalam konstruksi serta invoasi model produk adalah kunci utama.

Setelah bekerja sama dengan Mendekor, Jamal mendapatkan banyak sekali manfaat seperti yang ia tuturkan,

“Mendekor menuntut kemajuan model lebih cepat dari pada model luar negri, Tim Mendekor sangat inovatif.”

Ia juga merasa terus termotivasi dengan setiap order yang ia terima,

“Jadi kita banyak tantangan untuk menyelesaikan semua permintaan pasar.”

Dikarenakan permintaan yang meningkat, kini Jamal juga dapat memperkerjakan lebih banyak masyarakat disekitar lingkungannya,

“Sebelum bekerja sama dengan Mendekor, karyawan saya 20 orang. Terus setelah bekerja sama, sekarang sudah ada 38 orang, Alhamdulillah.”

Jamal mengaku sangat bahagia disaat usaha yang ia jalankan dapat memberikan manfaat lebih bagi orang lain, dalam hal ini para karyawannya. Ia juga berharap kerja sama yang terjalin dengan Mendekor bisa berjalan terus.

“Mendekor seperti bapak angkat saya.”

Demikian ungkapan Jamal yang merasa terayomi oleh Mendekor.

Apakah Artikel Ini Berguna?
View Compared Product
No Products to compared